Subscribe

Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Kamis, 18 Desember 2008

Mario Teguh : I can’t wait to be a king

Anda tidak sabar untuk menjadi raja itu sebabnya anda tergesa – gesa untuk keluar dari bayang – bayang keamanan, perlindungan orang tua lalu memutuskan sendiri
Seorang raja adalah wakil penjawab doa, bukan yang menjawab doa. Waktu orang tua kita berdoa bagi kemuliaan kita yang nanti menjawab doanya adalah Tuhan, Tetapi anak yang berlaku baik sudah menjadi wakil dari penjawab doa, karena doa ibunya adalah untuk kebaikan anaknya. Berarti anak – anak yang membantu orang tuanya segera doanya terjawab berlaku seperti jawaban doa orang tuanya.
Kalau ingin menjadi raja kita harus mengerti semua orang besar itu adalah orang – orang yang diharapkan menjadi wakil dalam menjawab doa orang banyak.

Bagaimana kita menggapai suatu impian yang besar untuk menjadi kenyataan yang luar biasa ?
Kita harus berpikir, maka pikirkanlah yang benar. Kita harus bermimpi, maka mimpikan yang indah. Kita harus melakukan sesuatu, maka lakukan yang terbaik. Besar atau tidaknya mimpi anda hebat atau tidaknya rencana anda, tetapi kalau anda setia untuk melakukan apapun yang terbaik dan apapun yang anda kerjakan yang terbaik anda akan mencapai kualitas kehidupan yang sekualitas impian.
Jadilah orang yang pantas untuk hidup dalam kehidupan dengan kualitas impian melalui kesungguhan untuk selalu melakukan yang terbaik dari yang bisa kita lakukan.
Kebahagiaan adalah mahkota utama dari seorang raja, maka yang muda bersiap – siaplah menjadi pemimpin keluarga. Karena seorang raja bisa menjadi pribadi yang utuh apabila dia berbahagia dirumah, anda menjadi pribadi yang utuh sekali apabila kebersamaan anda dengan seseorang yang anda cintai itu indah, itu dasar dari kerajaan yang sesungguhnya. Karena kerajaan yang dipimpin pribadi yang rusak keluarganya itu adalah kerajaan yang penuh kepura – puraan.
Bagaimana menjadikan diri kita sebagai seorang raja ditengah lingkungan yang tidak mendukung?
Semakin berantakan suatu keadaan semakin dibutuhkan seorang raja atau ratu. Masyarakat yang indah tidak harus dipimpin karena sudah indah, tapi kalau lingkungan kita buruk, saling menjatuhkan, dan saling tidak ikhlas cara – caranya adalah melalui kekasaran disitu tanda dibutuhkannya seorang pemimpin dan semua pemimpin digodok dari keadaan yang tidak baik.
Banyak orang melihat bahwa kesulitan itu sebagai penghambat, padahal jalan terpendek menuju tujuan selalu melewati hambatan, orang – orang yang beranilah yang melewatinya.
Bagaimana menghadapi ketakutan diri sendiri disaat saat kita jatuh?
Jatuh itu biasa yang tidak boleh itu lama berbaring disitu, mungkin kita dijatuhkan agar kita ikhlas bahwa yang mengangkat itu Tuhan, bukan penyombongan diri. Kita akan diingatkan Tuhan saat kita sombong, tidak jujur, marah. Saat kita dijatuhkan kita harus melihat sisi indah dari perilaku itu.
Lebih baik mana ikan dikolam kecil atau ikan dikolam yang besar?
Jadilah dulu dengan ikhlas ikan kecil dikolam besar agar anda mengerti perilaku ikan besar, mengerti sudut kolam besar, setelah anda siap waktu anda pindah kekolam kecil ternyata anda sudah besar. Dan memiliki kabijakan dari ikan besar yang membesarkan kolam besar, sehingga kita bisa menjadi ikan yang membesarkan kolam dimana kita berada.
Bagaimana membangun kualitas biasa untuk menjadi kualitas raja?
Seorang pemimpin dituntut mempunyai sesuatu yang lebih kalau bukan kompetensi untuk menghasilkan dia harus memiliki kemampuan mengenali orang yang berkompetensi untuk menghasilkan.
Semua kebahagiaan dicapai dengan membahagiakan orang lain.
Kita seorang raja telah menjadi raja bila hanya kebaikan yang menguasai kita, bila kebaikan yang menguasai kita, kita berbakat menjadi raja, bila keburukan yang menjadi kita, kita sudah menjadi tawanan, tawanan dari perilaku buruk. Keburukan tidak akan otomatis menjadi kebaikan, karena satu satu nya sampai pada kebaikan dari keburukan adalah menggantikannya dengan kebaikan.
Bagaimana mengetahui bahwa itu baik atau buruk, karena banyak orang bilang baik buruk itu relatif?
Baik itu terbagi dua komponen yang satu benar dan yang kedua hormat, orang yang benar tidak menghormati orang lain itu bukan orang baik, orang penuh hormat tapi tidak benar itu penipu. Kalau ada yang mengatakan baik buruk itu relatif dia harus perbaiki pengertian yang relatif
Yang menjadi penentu bagi besarnya keberhasilan ini biasanya adalah kecilnya kesungguhan untuk menjadikan penyebab diberikannya kebesaran.
Jadilah pribadi yang tidak menunggu sesuatu itu besar sebelum anda menghormati, hormati saat dia kecil. Semua masalah kita datang karena masalah masalah besar itu tidak ditangani waktu dia masih kecil.
Semua yang berhasil adalah yang sibuk selama menunggu.
Anak raja yang bergaul dengan orang yang martabatnya rendah tidak pantas lagi memimpin. Perhatikan pemimpin negara yang tidak mendidik anaknya untuk menjadi seorang negarawan, tetapi orang – orang kecil sedang menasehatkan kebaikan kepada anaknya, dan dia mengatakan Negara ini butuh orang – orang yang baik, yang jujur, yang tegas, dan menyegerakan kebaikan bagi saudaranya.
Tugas sebagai pemimpin adalah amar ma’ruf nahi mungkar memajukan yang baik dan mencegah terjadinya keburukan bagi saudara kita dan itu tidak dituhas kan pada orang kecil.
Bagaimana untuk menciptakan lingkungan menjadi sinergi?
Tinggalkan dulu pendidikan – pendidikan yang mensyaratkan kita harus pandai, sekolahnya tinggi, banyak uangnya, telah membuktikan berhasil itu ditinggalkan dulu. Kalau anda menjadi pribadi yang kehadirannya ditunggu anda mudah menjadi pribadi yang mempengaruhkan apapun yang anda pengaruhkan.
Seberapa pantaskan kita menjudgement bahwa orang itu baik atau buruk untuk kita?
Kalau menilai seseorang yang lebih penting adalah yang menilai orang itu yaitu kita, mulai sekarang belajarlah melihat diri anda dari luar diri anda.
“Dasarkanlah semua persahabatan anda atas kebaikan, lalu perhatikan apa yang terjadi”.

0 komentar:

Posting Komentar

Matur Tengkiu wis mampir rene...kirim kirim komentar yo..heheheh...